Allah dengan jelas dan tegas mengharam-kan
apa pun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Ini adalah ayat terakhir yang diturunkan menyangkut riba.
•
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa (dari berbagai jenis) riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya."
(Q.S. Al Baqarah:
278-279)
Jenis-Jenis Riba
Riba dikelompokkan menjadi dua. riba hutang-piutang dan riba jual-beli.
2.RIBA BARANG
a. Riba Qardh ( ربِا القرض )
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan
terhadap yang berhutang (muqtaridh).
b. Riba Jahiliyyah (ربِا الجاهلية )
Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.
a. Riba Fadhl (ربِا الفضل )
Pertukaran antarbarang
sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.
b. Riba Nasi’ah ( ربِا النسيئة )
Penangguhan
penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan
dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.
LANDASAN MURABAHAH
•Firman Allah
QS. al-Nisa’ [4]:
29:
•“Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu…”.
•Firman Allah
QS. al-Baqarah [2]:
275:
•"…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…."
•Firman Allah
QS. al-Ma’idah [5]:
1:
•“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu….”
•Firman Allah
QS. al-Baqarah [2]:
280:
•“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan…”
•Hadis Nabi SAW.:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka."
(HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
•Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah:
•“ Nabi bersabda, ‘Ada tiga hal yang mengandung
berkah:
1.Jual
beli tidak secara tunai,
2.Muqaradhah
(mudharabah),
3.Mencampur
gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.”
(HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).
•Hadis Nabi riwayat Tirmidzi:
•“Perdamaian dapat dilakukan di
antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka
kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”
•(HR. Tirmizi dari ‘Amr bin ‘Auf).
Hadis Nabi riwayat jama’ah:
“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman…”
Hadis Nabi riwayat Nasa’i, Abu Dawud, Ibu Majah, dan
Ahmad:
“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”
•
Hadis Nabi riwayat `Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam:
“Rasulullah SAW. ditanya tentang ‘urbun (uang muka) dalam jual beli, maka beliau menghalalkannya.”
•Ijma' Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara Murabahah
•(Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, juz 2, hal. 161;
lihat pula
al-Kasani, Bada’i as-Sana’i, juz 5
Hal. 220-222).
•Kaidah fiqh:
•“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
unduh fatwa MUI
unduh fatwa MUI
